Setelah memahami dasar akuntansi, sekarang kita masuk ke istilah yang sering membuat pemula bingung:
Debit dan Kredit.
Sebenarnya tidak serumit itu.
Debit dan kredit bukan berarti:
Debit = uang masuk
Kredit = uang keluar
Bukan begitu.
Debit dan kredit adalah posisi pencatatan dalam jurnal.
Debit → kiri
Kredit → kanan
Aturan Dasarnya
Jenis Akun | Bertambah | Berkurang |
|---|---|---|
Aset | Debit | Kredit |
Beban | Debit | Kredit |
Utang | Kredit | Debit |
Modal | Kredit | Debit |
Pendapatan | Debit | Kredit |
Tidak perlu langsung menghafalnya.
Kita coba dengan contoh.
Contoh 1 — Pemilik Menyetor Modal
Pemilik menyetor uang:
Rp50.000.000
Apa yang berubah?
Kas bertambah dan modal bertambah.
Kas adalah aset → bertambah di Debit.
Modal adalah ekuitas → bertambah di Kredit.
Jurnalnya:
Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
Kas | Rp 50.000.000 | |
Modal | Rp 50.000.000 |
Contoh 2 — Membeli Barang Tunai
Perusahaan membeli persediaan:
Rp10.000.000
Kas berkurang.
Persediaan bertambah.
Jurnalnya:
Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
Persediaan | Rp 10.000.000 | |
Kas | Rp 10.000.000 |
Kenapa?
Karena persediaan adalah aset yang bertambah → Debit.
Kas adalah aset yang berkurang → Kredit.
Contoh 3 — Membayar Listrik
Perusahaan membayar listrik:
Rp500.000
Beban listrik bertambah dan kas berkurang.
Jurnalnya:
Akun | Debit | |
|---|---|---|
Beban Listrik | Rp 500.000 | |
Kas | Rp 500.000 |
Satu hal penting:
Total Debit harus sama dengan Total Kredit.
Inilah prinsip dasar dalam pencatatan jurnal.
Cara Berpikirnya
Kalau menemukan transaksi baru, jangan langsung bertanya:
"Debitnya apa?"
Coba urutkan:
Apa yang terjadi?
↓
Apa yang berubah?
↓
Akun apa yang terlibat?
↓
Bertambah atau berkurang?
↓
Debit atau Kredit?
Dengan pola ini, debit dan kredit akan jauh lebih mudah dipahami.
Di artikel berikutnya kita akan melihat bagaimana kumpulan jurnal tersebut berubah menjadi buku besar dan laporan keuangan.
