Kita sudah mengenal transaksi, akun, debit, kredit, dan jurnal.
Sekarang pertanyaannya:
"Setelah transaksi dicatat, lalu buat apa?"
Jawabannya: data transaksi tersebut akan diproses sampai menjadi laporan keuangan.
1. Transaksi
Semuanya dimulai dari transaksi.
Contoh:
Perusahaan menjual barang secara tunai sebesar:
Rp5.000.000
2. Jurnal
Transaksi tersebut dicatat:
Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
Kas | Rp5.000.000 | |
Penjualan | Rp5.000.000 |
Kalau menggunakan sistem persediaan, biasanya ada pencatatan HPP juga.
Misalnya harga pokok barang tersebut Rp3 juta:
Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
HPP | Rp3.000.000 | |
Persediaan | Rp3.000.000 |
3. Buku Besar
Jurnal kemudian dikelompokkan berdasarkan akun.
Misalnya semua transaksi yang berhubungan dengan Kas dikumpulkan ke akun Kas.
Dari sini kita bisa mengetahui:
Saldo kas perusahaan sekarang berapa?
Begitu juga dengan:
Persediaan
Piutang
Utang
Penjualan
Beban
Modal
dan akun lainnya.
4. Neraca Saldo
Saldo dari masing-masing akun kemudian dikumpulkan.
Tujuannya salah satunya untuk memastikan pencatatan debit dan kredit tetap seimbang.
Secara sederhana:
Total Debit = Total Kredit
Kalau tidak seimbang, berarti ada pencatatan yang perlu diperiksa.
5. Laporan Keuangan
Dari data tersebut kemudian kita bisa menghasilkan laporan keuangan.
Laporan Laba Rugi
Menjawab:
"Bisnis kita untung atau rugi?"
Rumus sederhananya:
Pendapatan - Beban = Laba/Rugi
Neraca
Menjawab:
"Perusahaan punya apa dan punya utang berapa?"
Dasarnya:
Aset = Liabilitas + Ekuitas
Laporan Arus Kas
Menjawab:
"Uang perusahaan masuk dan keluarnya ke mana?"
Misalnya:
Uang dari pelanggan
Pembayaran supplier
Pembayaran gaji
Pembelian aset
Setoran modal
Pembayaran pinjaman
Jadi Alurnya Apa?
Kalau disederhanakan:
Transaksi
↓
Jurnal
↓
Buku Besar
↓
Neraca Saldo
↓
Laporan Keuangan
Jadi sebenarnya laporan keuangan yang kita lihat di akhir berasal dari transaksi-transaksi kecil yang dicatat sejak awal.
Itulah kenapa pencatatan transaksi yang benar sangat penting.
Kalau dari awal salah mencatat, laporan akhirnya juga bisa ikut salah.
Penutup
Akuntansi tidak harus dimulai dengan menghafal banyak istilah.
Mulailah dari memahami:
"Apa yang terjadi pada bisnis?"
Kemudian catat perubahan tersebut dengan benar.
Kalau konsep itu sudah dipahami, jurnal, buku besar, dan laporan keuangan akan terasa jauh lebih masuk akal.
